Menyematkan kata "Kasihan"
Saya teringat tentang beberapa momen saat bertemu dengan orang-orang secara acak, entah itu di jalan atau transportasi umum. Pernah saya bertemu dengan seorang wanita paruh baya dan berkata dalam hati "kasihan yaa sudah tua tp masih kerja, anaknya kemana?" terus besok2 ketemu sama yang lebih muda "kasihan yaa ini orangtuanya kemana, harusnya dia masih bisa main sama teman2nya di luar sana, bukannya kerja". Kemudian ada lagi, ini yang kadang banyak memicu masalah2 baru hahah semisal bilang kayak gini "ihh kasian ya sudah berapa tahun menikah tp belum juga punya anak", "ihh kasian yaa hidupnya gitu2 amat", "duh kalo saya jadi dia kayak mana ya kasihan sekali", "ya elah kasian yaa cowok itu sudah berumur tp belum punya kerjaan tetap, belum nikah pulak" hiyaaaa...ada lagii "kasihan yaa si anu di umurnya yg sudah tuwir belum jg lulus2"🤣 Did you know them? Did you know me guys? Saya jadi bertanya sama diri sendiri "kenapa dgn begitu mudahnya bilang kasihan sm hidup org lain?" apakah hidup yg saya beri label dgn kata "kasihan" benar2 mengasihankan atau tidak mereka inginkan? Mana tahu mereka jauh lebih mensyukuri hidup mereka dan bisa jadi itu pilihan mereka. Iya pilihan mereka, itulah hidup yg mereka usahakan, itulah hidup bahagia menurut mereka. Dear me, sesungguhnya mengasihani hidup org lain terkadang hanya akan melemahkan hidup yg sebenarnya sangat mereka syukuri. Jd belajarlah menghargai pilihan2 org lain dan lebih bijaklah dalam menilai. Okelah, sebagai manusia kita harus memiliki empati dgn org2 di sekitar kita, tapi perlu juga diingat "Sebagian orang memang berjalan pelan, memilih hidup biasa2 saja namun bermakna, tidak menilai hanya dr segi materi". Belajarlah untuk tidak mudah "Menyematkan kata kasihan dalam hidup orang lain".
Komentar
Posting Komentar